Kalau saya mau jawab keras-keras,”SAYA
PERLU ART!”. Menghandle sendiri pekerjaan rumah tangga itu sangat melelahkan. Untuk
baru yang baru serius merintis bisnis seperti saya, ditambah lagi saya
cenderung disorganized, tanpa ART itu stressful.
Saya pengalaman memiliki beberapa
ART, dari yang ABG hingga usia uzur, dari yang stay dirumah sampe yang cuma beberapa
jam saja kerja di rumah. Dari awal melahirkan Farras sudah dibantu, saya kena
syndrom baby blues, dan ini berat banget. Kehadiran ART ini pelipur lara,
rasanya tenang kalau ada teman dirumah sekalipun tidak diajak mengobrol. Saya ynag
introvert dan kadang kurang teliti kadang membuka peluang ART untuk “menggunting
dalam lipatan” atau memanfaatkan kebaikan saya.
Saya termasuk jarang menggosip,
ngobrol seperlunya saja. Saya merintis
rumah tanngga dan bekerja dari nol, sedangkan ART yang pindah ke jakarta kerap
mengira akan hidup enak-enakan sebagai pembantu rumah tangga seperti di
sinetron. Saya awalnya lelah dibandingkan dnegna majikan yang lain, yang hobi
ngasih uang saku, jalan-jalan. Saya menghormati suami dan keuangan rumah
tangga, tidak untuk hal-hal yang tidak perlu. Pun dilihat juga cara kerja si
ART ini.
Sudah umum kalau majikan justeru
harus nurut sama pambantu. Karena merasa diperlukan, jadilah mereka kadang
pasang standar tinggi, tapi kerja model sontoloyo. Saya sampai “dijenguk” dan
dinasehati tetangga, kalau misal butuh banget ya ngga usah rewel. Ya apa
tetangga saya ini tahu ART saya ini hobi pacaran, atau merokok diam-diam, stok
jajan Farras banter banget habisnya, padahal Farras termasuk jarang ngemil. Saya
bukannya pelit atau perhitungan, mbok yao, pekewuh sama majikan. Saya yang
awalnya menganggap teman, malah jadi kayak babu, pulang kerja ya tetap menyuapi
anak, nyapu-nyapu. Belum lagi punya pengalaman meninggalkan Farras bersama
pembantu yang doyan banget pacaran di kamar dan bicara kasar.di jelek-jelekin
di hadapan tetangga, padahal kita berusaha memperlakukan seperti
saudara.Sakitnya tuh di sini. Hikkk... Duuuh ngenesee...resign saja akhirnya,
saya merasa belum seberuntung temen saya yang punya pembantu loyal (ya karena
berani bayar gaji tinggi plus siap nurut sama si pembantu)
Setelah resign kerja, menghandle
semua sendiri, jadi kerasa banget butuh orang lain. Tapi mengingat mental ART
Indonesia ini kebanyakan punya mental hedon, dengan ketrampilan ala kadarnya,
saya mengurungkan niat. Berharap banget isu kedatangan ART dari luar negeri
yang terkenal baik serta cekatan bisa terwujud.
Saya termasuk kurang sreg kalau
ada orang yang saya gaji, malah mengganggu hidup saya. Memang diperlukan hati
yang lapang untuk menerima ART dirumah. Apalagi yang menginap. Siap untuk
dikepoin terus latar belakang kehidupan kita, keuangan kita, dari cara kita
berpakaian, makan apa saja, jalan kemana. Kalau kesemuanya ini tidak coock di
hati sang ART, bukan tidak mungkin akan segera beredar cerita jelek mengenai
keluarga kita diluar. Sedikit banyak kadang ART ini bisa memicu konflik kalau
tidak berhati-hati.
Ini cerita saya yang tinggal di
kota besar, akan berbeda dengan keluarga yang tinggal di daerah atau pelosok. Karena
pada intinya ART di kota besar ini datang dengan mimpi segudang, berharap punya
majikan yang mampu memenuhi mimpi-mimpi itu. Kota besar yang dikiranya bisa
mewujudkan mimpi mereka, ternyata tidak ramah dan mereka kadang tidak bisa
menerima realita dengan cara menipu sang
majikan. Majikan lelah cari nafkah (apalagi yang memiliki anak) dianggap mesin
ATM, rumahnya dianggap tempat ngekos gratis. Padahal majikan dengan lapang
dada, menerima kekurangan sang ART.
Ada yang mengatakan kita harus menerima kekurangan ART bagaimanapun
parahnya, kan kita butuh mereka. Saya kurang sependapat. Sama seperti rumah
tangga, atau bertetangga, tentu harus sama-sama tahu hak dan kewajiban. Bukannya
menuntut kewajiban terlebih dahulu. Kalau ingin gaji tinggi, ya kemampuan harus
ditingkatkan. Kalau ingin dihargai ya, layak menunjukkan hal yang membuat
majikan percaya akan tanggung jawab ART.
Saya memilih resign salah satu
pertimbangannya hidup tanpa memiliki ART. Saya bukannya ingin menjadi super
woman, tapi saya belum siap dengan orang lain dirumah yang punya visi dan misi
beda tentang kehidupan. Saya menginginkan orang yang tidak suka ikut campur
urusan orang dan nrimo serta bisa dipercaya. Saya merasa sudah tidak ada waktu
bereksperimen dengan ART. Ini kesempatan saya melibatkan suami dalam pekerjaan
rumah yang sebenarnya bisa menjadi tauladan baik bagi Farras. Berat, dan sempat
menganggu mental saya. Saya mencoba untuk tidak terlalu perfeksionis, dan
meminta suami untuk lebih paham kondisi. Ini tantangan dalam keluarga kami. Alhamdulillah
Farras sudah belajar mencuci piring dan pakaian sendiri. Uang bisa dihemat
untuk jalan-jalan atau hunting makanan di akhir pekan. Saya berusaha memasak,
tetapi tidak harus saya lakukan. Sekali-kali jajan. Cucian disetrika di tempat
laundry. Saya mengatakan dalam diri saya, saya mempunyai standar rumah tangga
saya sendiri, jadi saya tidak perlu pusing dan baper dengan tetangga yang punya
standar masak terus 3x sehari, rumah rapi, rutin nonton tivi.Heyyyy..kan visi
misi keluarga beda!!