Tulisan ini awalnya akan diikutkan pada lomba menulis Intitute Ibu Profesional di sebuah seminar, tetapi karena saya berhalangan hadir, saya urungkan mengirim tulisan ini. Semoga yang membaca bisa mengambil manfaat.
Akhir-akhir ini saya banyak berefleksi. Selama 5 tahun memiliki anak,
baru kali ini saya bertekad 100% resign dari pekerjaan dan fokus ke rumah. Saya
sadar ada tanggung jawab besar menunggu, yaitu mengasuh Farras. Saya hidup
dilingkungan dimana perempuan (istri) yang sudah memiliki ijazah sarjana wajib
menunaikan ilmunya melalui berkerja di luar rumah. Waktu itu orang tua cukup
sibuk juga mencarikan saya pembantu untuk mengasuh Farras. Dan karena tidak
cocook dengan gaya mengasuhnya, saya bolak balik ganti pembantu.
Setiap hari, setiap saat berangkat kerja saya selalu berkata dalam hati,
apakah anak aman dengan mbaknya? Apakah dia cukup amanah ketika saya tinggal?
Keraguan saya terus muncul. Tetapi berkaca dari saudara-saudara saya yang lain,
yang semua keinginan anaknya terpenuhi, saya lupakan keraguan saya meninggalkan
anak. Saya harus tetap bekerja, agar kebutuhan anak saya terpenuhi. Dan saya
belum siap mendengar celetukan sebagai sarjana pengangguran. Pada akhirnya
semua terpenuhi, tapi lama kelamaan saya sadar, anak tidak akan pernah puas
dengan materi. Hanya karena ingin dianggap mampu di hadapan orang lain, saya
meninggalkan tugas yang paling penting, yang tugas itu saya minta sendiri sama
Alloh. Alloh amanahi saya anak. Tapi saya amanahkan anak ke orang lain hanya
karena ingin menyenangkan orang lain, punya kebahagiaan semu, Astaghfirulloh...
Enam bulan sebelum ulang tahun Farras kelima. Alloh memberi hidayahNya,
memberi petunjuk, “Ayo hambaKu, Aku tahu hatimu ragu, Aku mencintaimu dan
jangan engkau kira Aku tidak pernah memperhatikanmu. Aku akan tuntun engkau
melalui jalanKu dan bersabarlah karena jalanKu ini sulit. Tapi jangan khawatir,
Aku akan selalu membimbingmu jika Engkau membutuhkanKu.” Saat itulah semangatku
kembali bangkit.
Awal-awal melahirkan Farras saya banyak belajar parenting, tapi entah
kenapa diperjalanan kehidupan Farras saya tidak bisa sepenuhnya menerapkan ilmu
yang telah saya pelajari. Dan kini Alloh mengembalikan memori saya,
mengembalikan kerinduan saat saat penuh energi dan cinta mengasuh Farras. Saya
berusaha tegas dan berani mengambil keputusan. Mengingat kembali bahwa anak
adalah tanggung jawab saya dan suami sepenuhnya, “Aku akan mengembalikanmu pada
kebenaran” begitu mungkin kata Alloh. Saya bergabung dengan komunitas tahajud
karena dalam pencarian kebenaran ini saya cenderung disorganized, bingung harus mulai dari mana dulu, seperti berlari
dan berjalan tanpa arah, saya ingin dekat dengan Alloh, dekat dengan
orang-orang baik. Saya mulai banyak membaca lagi, berteman, dan mencari
komunitas parenting. Saya mengatakan kepada diri saya dan suami, bahwa mengasuh
total tidak bisa ditunda lagi. Saya akan ambil pekerjaan ini dengan berbagai
resikonya. Biarlah saya tanggung resiko duniawi dari pada malu menanggung
resiko di akhirat. Ini tanggung jawabku sama Alloh.
Saya mengikuti berbagai seminar parenting bersama suami. Intinya, kami ingin merubah mindset kami dalam mengasuh Farras.
Saya yang termasuk paling getol karena saya merasa sudah menyia-nyiakan anak
saya beberapa tahun. Saya seperti dikejar waktu. Anak saya kian besar. Suatu
saat dia tidak membutuhkan saya lagi. Saya selalu bertanya pada diri saya,”saat
itu nanti, apakah dia siap mandiri, bertanggung jawab terhadap dirinya,
lingkungannya dan Allohnya??” Ya Alloooh, ngapain aja aku selama ini????
Semakin banyak membaca, mengikuti seminar, semakin ketemu benang
merahnya kemana harusnya kami melangkah. Kami mulai menata kehidupan kami,
mulai belajar komunikasi dan memikirkan Farras harus menjadi manusia seperti
apa di masa depan. Setiap hari kami memperbaiki diri. Memohon ampun sama Alloh.
Pada akhirnya saya mulai mengurai satu per satu tujuan kami mengasuh Farras.
Kami ingin melihat Farras di masa depan sebagai manusia yang mandiri, mampu
mengemban amanah, sukses di usia mudanya hingga akhir hayatnya sesuai dengan
minat dan bakatnya, menjadi anak yang sholeh dan bermanfaat bagi masyarakat.
Saya makin keranjingan mencari ilmu pengasuhan, dari gaya berkomunikasi
sampai multiple intelligence (MI).
Wah..wah..saya ketinggalan banyak sekali. Bahwa bacaan bertema MI yang diluar
kompetensi saya bisa saya baca dengan lahap adalah sesuatu yang menggembirakan.
Aha!! Inilah yang selama ini kami keliru memahami, begitu juga orang tua kami.
Banyak Aha! Aha! Lain kami temui selama kami belajar kembali. Inilah yang makin
memantapkan langkah saya. Saya mencari teman yang sevisi, baik di media sosial
maupun dunia nyata. Tiap hari belajar memperbaiki diri. Semakin mengkoreksi
diri, semakin bertemu dengan tujuan sebenarnya, semakin terlihat jalannya
seperti apa. Saya ingin Farras jadi anak mandiri, maka saya biarkan dia makan
sendiri, memakai baju dan sepatu sendiri, makan sendiri. Saya ingin Farras
sadar tanggung jawab, maka saya latih agar mau membereskan mainannya stelah
bermain, saya ijinkan Farras membantu pekerjaan rumah yang diinginkannya. Saya
ingin Farras memiliki ketrampilan berpikir yang sangat menunjang kesuksesannya
kelak, maka saya hadapkan Farras pada pilihan pilihan terbatas, mau pilih baju
ini atau itu, kalau dirasa malam belum tidur dan masih nonton tv, saya kasih
tawaran mau dibacakan buku atau nonton tv tapi tidak saya bacakan buku sebelum
tidur. Biasanya Farras akan memilih minta dibacakan buku sebelum tidur. Dan
dari membacakan buku saya banyak berdiskusi dengna Farras, menstimulasi
kecerdasan aksaranya melalui cerita lisan dan kecerdasan logikanya melalui
pertanyaan,”kira-kira menurut Farras kenapa...”,”seandainya...bagaimana
kelanjutannya.....”,atau saya minta feedback
mengenai isi buku yang harus dipraktekkan. Seperti saat ini saya ajak Farras
mendengarkan saya membaca buku, ‘Aku anak yang Berani”. Setelah membaca saya
minta Farras mengenal bagian tubuh mana yang tidak boleh sembarangan disentuh
oleh orang asing, kemudian seandainya Farras bertemu dengan orang asing dan
menawarkan mainan atau makanan kesukaan Farras, bagaimana seharusnya respon Farras.
Saya suka berpura pura akting meyakinkan. Intinya saya ingin tahu apakah Farras
memahami isi buku ini. Pada kesempatan lain, saya membacakan kisah Rasulullah.
Saya benar-benar kagum dengan penulisnya yang benar benar bisa membuat Farras
menangis,berkaca kaca matanya , merindukan Rasulullah, ingin berjumpa dengna
Rasulullah. Farras memahami Rasulullah sebagai manusia yang menyayangi
anak-anak,sahabat,hewan,Alloh. Ketika Farras tidak mau berbagi, maka saya
sampaikan padanya, “Farras..Rasulullah itu sayang dengan sahabatnya, berbagi
ya,Nak..”Farraspun akhirnya mau berbagi.
Saya bersyukur karena saat ini didampingi oleh suami yang selalu
mendukung pilihan dan ikut aktif mengasuh Farras di waktu istirahatnya. Kalau
Ayah suka olahraga, maka disitulah pendekatan terhadap Farras dimulai. Bermain
tennis, bulutangkis dan tangkap bola disamping berolah raga ternyata bagus untuk
melatih kematangan visual dan motorik anak yang menjadi kunci keberhasilan
membaca dan menulis. Semakin didalami makna kegiatan bersama anak sehari hari,
saya makin jatuh cinta dengan peran saya sebagai Ibu dan isteri.