html> exploring everything, everywhere...: REVIEW BUKU:THE ONE WORLD SCHOOL HOUSE karya Salman Khan (Sal) (bagian 1)

REVIEW BUKU:THE ONE WORLD SCHOOL HOUSE karya Salman Khan (Sal) (bagian 1)

“anak-anak adalah pembelajar alami. Rasa ingin tahunya adalah sarana yang tepat untuk memenuhi benaknya dengan ilmu. Lalu kenapa harus repot-repot menyuapi dengan ilmu yang belum menjadi ketertarikannya?”
 
Inilah gambaran saya ketika membaca buku ini. Dan rasanya klik banget dengan fakta-fakta yang disajikan oleh Sal mengenai sistem pendidikan yang umum berlangsung di setiap sekolah. Buku ini mengupas dengan detail kelemahan sistem pendidikan konvensional. Satu hal yang saya garis bawahi adalah tidak dihargainya fitrah anak oleh sistem bernama sekolah. Banyak anak dengna potensi dan bakat besar, tetapi tidak berhasil di sekolah. Dengan standar nilai yang diciptakan sistem, perlahan mereka harus memaklumi bahwa potensi mereka tidak layak diperjuangkan. Ini kalo saya katakan lebih kejam dari pelanggaran HAM karena dampaknya luas dan sistemis. Seeperti yang Sal sampaikan salah satu dampaknya adalah banyak anak yang tidak memiliki cita-cita, kuliah di jurusan yang tidak disukainya, dan akhirnya bekerja di bidang yang tidak disukainya. 
 
Adalah seorang cerdas dan berhati mulia, bercita-cita agar pendidikan selayaknya dicapai oleh siapapun, sesuai dengan kemampuannya. Dialah Salman Khan (Sal), lulusan universitas terbaik di dunia, mantan karyawan dengan gaji memukau, kemudian meninggalkannya hanya demi menjalankan sebuah ide mulia tanpa upah. Akademi Khan yang didirikannya berupaya membantu anak manapun yang kesulitan belajar di kelas. Anak-anak ini bisa mengakses video tutorial dengna gratis tanpa gangguan iklan. Niat mulia Sal didukung penuh oleh pendiri dan pemimpin Microsoft, Bill Gates dengan bantuan dana yang cukup besar. Bahkan anak-anak Bill Gates memakai Akademy Khan untuk belajar. 
 
Di Akademi Khan, anak-anak belajar sesuai kecepatannya dan sesuai minatnya. Tidak dibatasi usia dan ruang. Dan itu semua gratis,kecuali membayar akses internetnya. Kurator TED menyebutnya, reformasi pendidikan. Mau tidak mau kita harus melek teknologi. melek yang positif tentunya. Bagiamana mendayagunakan teknologi untuk kebaikan manusia. tentu sebelum teknologi digunakan, manusianya perlu dididik dengan karakter agar teknologinya bermanfaat bukan menjadi bumerang. Filosofi Akademy Khan ini mengajarkan saya banyak hal. Bahwa mau tidak mau zaman cepat sekali berubah (makanya saya juga harus cepat belajarnya, dan mempelajari tantangannya guna kepentingan mengasuh anak), bahwa mungkin sekali kelak akan dijumpai profesi yang sekarang belum pernah ada akibat kebutuhan zaman yang dinamis (saya harus belajar menghargai fitrah anak, membiarkan dia tumbuh dengan potensi dan kekuatannya, membekali dirinya dengan agama, membnagun karakter positifnya), bahwa kemampuan berkreativitas dan inovasi saat ini bukan lagi jadi pilihan, tapi wajib dimiliki anak agar bisa bertahan hidup di masa depan (saya selayaknya rajin menstimulasi creative dan critical thinking skill anak). 
 
Pernah mengalami masa pendidikan (yang menurut Sal lebih cocok diterapkan di zaman perbudakan masih berlangsung), rasanya saya tidak rela,atau mengijinkan anak saya melalui proses yang sama.

Labels: , , , , ,