Sebagian ibu mungkin heboh anaknya seusia Farras (5,5 tahun) harus bisa baca, tulis dan hitung. Beberapa mungkin santai-santai saja. Termasuk saya.Yakin dikira santai?
Adalah karena kasus minat baca negeri ini yang memang tidak usah diragukan lagi (rendahnya). Padahal anak anak di negeri ini sudah di "tekankan' untuk bisa baca dan tulis sejak dini. Harusnya "senang" baca dan nulis juga kan?
hohohoho.."senang" dan "bisa" itu dua hal yang berbeda, "senang" itu proses tidak sadar, sedangkan "bisa" adalah proses yang harus dikerjakan secara sadar.
Untuk menjadi "senang" maka harus ada alasan atau motivasi internal dari dalam diri seseorang. untuk "senang" membaca maka ada alasan orang tersebut kenapa harus membaca, begitu juga menulis. Lain halnya "bisa", dengan bisa menulis atau membaca, maka seseorang belum tentu senang melakukannya, kecuali ada sebuah motivasi. "bisa" ini melengkapi "senang", tapi tanpa "senang", "bisa" bukanlah apa-apa,belum dianggap sesuatu yang berarti.
Saya tidak heran ketika bertemu dengan seorang ibu di playground, yang mengeluhkan anaknya yang berusia 4 tahun kehilangan minat baca. Anak ini dari usia 3,5 tahun sudah dikursuskan baca tulis. Yang dikeluhkan si ibu adalah karena anaknya hanya mau membaca bacaan yang diberikan gurunya, sedangkan si ibu ingin agar anaknya rajin membaca apapun. Anaknya sudah bisa membaca, tapi kehilangan minatnya membaca. Saya paham, misi orang tua sekarang adalah bagaimana membuat anak secerdas mungkin dari awal, disekolahkan di sekolah terbaik, lulus bekerja di tempat yang terbaik, di zona nyaman.
Ada sebuah tantangan besar di masa depan yang belum banyak orang tua tahu. Sifatnya tantangan adalah membuat kita keluar dari zona nyaman. Sedangkan anak-anak kita tidak dipersiapkan agar mau keluar dari zona nyaman. Adalah Ellen Galinsky (peneliti dan penulis buku) dalam bukunya Mind in The Making, mengatakan bahwa ada 7 ketrampilan hidup (lifeskill) yang hendaknya dipersiapkan dalam diri anak, beberapa diantaranya adalah mengusahakan anak agar menjadi pembelajar mandiri dan punya ketrampilan berpikir kritis. Latar belakang Ellen menulis buku ini adalah karena zaman begitu cepat berubah, akan bnayak profesi-profesi baru sesuai perkembnagan zaman. Profesi yang dibangga banggakan sekarang, belum tentu akan dibanggakan di masa depan. Dunia masa depan ini perlu banyak inovasi. Kreativitas dan inovasi adalah keharusan, bukan menjadi pilihan lagi.
Untuk menjadi pembelajar mandiri salah satunya adalah dengan gemar membaca. Membaca akan membuat seseorang luas persepsinya. Membaca akan menambah pengalaman, informasi, menstimulasi imajinasi, dan ide-ide. Dari membacalah akar berpikir kritis dan inovatif akan terbangun. Kemajuan suatu bangsa bahkan bisa dilihat dari kegemaran warga negaranya membaca hal-hal berkualitas. Lalu bagaimana jika pada masa anak-anak saja sudah kehilangan minat terhadap buku?
Oleh karena itu saya tidak khawatir Farras belum bisa membaca selama minatnya terhadap buku besar. Siang sebelum bobo minta dibacakan buku. malam sebelum bobo juga minta dibacakan buku. Saya ingin membuat bonding antara buku-Farras terlebih dahulu. Bahwa dari bukulah segala keingintahuannya dapat terpenuhi. Imajinasinya perlu diasah lewat buku cerita fabel atau dongeng. Dari bukulah saya dapat mengasah critical thinking, kecerdasan logika dan bahasanya, membangun karakter anak, mengenalkan sosok hebat di dunia, mengenalkannya pada dunia baru.
Dari bukulah Farras mulai mengenal banyak hal,yang entah suatu waktu akan menjadikannya ide merancang lego atau menggamba. Memperkaya imajinasinya.
 |
| Buku ini sering dipandangi, imajinasinya sedang mempelajari bagaimana lego-lego ini tersusun |
|
 |
| Imajinasinya membantu mendesain sebuah Hotwheel keluaran baru |
 |
| dari cuma bentuk mulut saja Farras berusaha membuat wajah sebuah monster, imajinasi bermain main mendesain sebuah monster |
 |
| imajinasi membantunya merancang sebuah robot |
 |
| bonding antara farras-buku terlihat nyata, Farras mengambil manfaat, mempelajari berbagai susunan lego. |
 |
Buku
bacaan bilingual ini dipilih Farras di sebuah swalayan.murah dan
informatif.senangnya karna Farras sudah terlihat antusias dengan buku.
Membacakan buku berarti kesempatanku melatih thinking skill Farras.
Awalnya iseng menanyakan pada Farras kira kira kenapa Alloh ciptakan
udang jantan mempunyai capit yang panjang,sednag udang betina tidak
memiliki capit panjang ketika bagian buku ini membahas
perbedaan udang jantan dan betina. Bagian penjelasan belum dibacakan.
Diluar dugaan Farras merespon bahwa udang jantan perlu senjata capit
untuk bertarung melawan musuh. Sedikit mendekati kebenaran.tapi jawaban
benar belum perlu untukku.yang aku perlukan adalah Farras mulai aware
dengan adanya perbedaan.apa tujuan perbedaan ini diciptakan. Dan
begitulah awalnya Farras akan tertarik minta dibaca buku itu lagi dan
lagi. Buku biasa harus dibuat seru dan menarik,mengatasi keingintahuan
Farras,melatih pikirannya bahwa buku adalah temannya yang akan memberi
tahu kebenaran dan sesuatu yang baru,sesuatu yang membuat penasaran
berkepanjangan. Sehingga Farras perlu buku lain yang lebih seru. |