Terkadang hidup dan rencana tidak berjalan mulus, begitu juga dengan mengasuh anak. Rasa kesal, jenuh, putus asa pernah kualami, apalagi Farras sedang aktif-aktifnya, kritis-kritisnya meniru, tidak senang diperingatkan dan terkadang berakhir dengan membuatku kesal. Tapi aku sadar, bahwa aku tidak pernah sendiri, bukan aku saja yang mengalami, dan semua ini akan cepat berakhir, anakku akan tumbuh cepat, dan belum genap 3 tahun, aku telah melihat "kedewasaannya". Apapun salah yang telah dilakukan Farras, yang membuatku tidak suka, Farras langsung meminta maaf. Aku tumbuh dilingkungan dimana bahasa "maaf" itu sangat langka, manusia disekitarku hidup dengan "falsafah kebenarannya", maaf berarti menghinakan diri. Tidak heran, banyak kesalahpahaman, prasangka, dan curiga disana-sini. Bolehlah dibilang ahli beragama, tapi untuk mengamalkannya belum betul-betul bisa dikatakan ahli beragama.

Aku tidak pernah percaya teori sebelum aku membuktikannya sendiri. Suatu saat aku membuka-buka kembali buku "supernanny" yang dikarang Jo Frost. Aku sudah betul-betul putus asa menghadapi Farras yang mogok makan, pilih-pilih makan, dan makan dalam waktu yang sangat lama..(bayangkan mengejar-mengejar anak sambil membawa piring berisi nasi dan segelas air selama 3 jam!!!). Atau suatu hari Farras memukul / berkelahi dengan temannya, merusak barang-barang dirumah, marah tidak terkontrol. Aku tidak bisa terus-terusan menangis dalam hati putus asa. Akhirnya, aku mengikuti saran Jo Frost, aku mencoba menerapkan teori "kursi nakal". dan selama beberapa kali mencoba, cara ini berhasil membuat Farras patuh dan nearly tanpa kekerasan, sebagai bonusnya, Farras memahami kata-kata maaf. Selama makan, aku memang harus ekstra sabar menungguinya untuk tetap duduk dimeja makan, dan jika Farras mulai bertingkah,aku cukup memperingatkan terlebih dahulu tidak langsung mendudukannya di "kursi nakal", begitu juga kalau sedang ribut dengan teman-temannya, Farras mau meminta maaf dan mengakui, mendefinisikan kesalahannya.