Aku senang Farras sudah menunjukkan antusiasmenya dengan buku. Terkadang kalau aku sedang membaca buku Farras mendekat sambil mengatakan, "Baca apa, Ma..baca apa.." katanya ingin tahu dan ingin diceritakan dengan apa yang aku baca. Sebelum tidur dan saat-saat mulai menunjukkan tantrum, membacakan buku bisa membuat Farras lebih rileks. Saat ini Farras sedang akrab dengan cerita berjudul "Lumpur Kasih Sayang". Dalam cerita ini ada tokoh Didi yang bermain lumpur sampai ke dalam rumah, Didi mempunyai boneka kuda nil bernama Onil yang selalu dibawanya. Sekalipun kotor, Ibu Didi tidak lantas memarahi Didi.Awalnya Didi takut kalau Ibu akan memarahinya, tapi Ibu dengan tersenyum malah membuat gambar-gambar hewan dengan lumpur yang tercecer dilantai, menghibur Didi yang terlanjur ketakutan. Farras senang sekali dengan cerita ini, sampai minta dibacakan berkali-kali sebelum tidur. Aku membacakannya dengan penuh ekspresi tapi berkali-kali membaca aku baru sadar, bahwa aku terkadang terlalu keras kalau menegur Farras. Yaah, mungkin dengan meminta dibacakan berkali-kali, Farras sebenarnya sedang "menegurku".
 |
| "Baca Onil..baca Onil.."begitu kata Farras kalau minta dibacakan cerita ini.. | | |
Bacaan lain yang sedang digemari Farras adalah cerita anak bernama Alvin yang pergi mengnjungi dokter gigi. Awalnya aku mengenalkan cerita ini untuk "membujuk" Farras agar mengurangi makan permen. Dalam cerita ini nampak gambar Alvin yang mulutnya ternganga lebar ketika diperiksa dokter gigi. Aku mendeskripsikan Alvin sedang teriak-teriak kesakitan, dicabut giginya yang sakit akibat suka makan permen.
 |
| Cerita Alvin yang awalnya bisa "membujuk" Farras untuk berhenti memakan permen |
|
Farras tidak tahan godaan permen, apalagi teman-temannya mayoritas penggemar permen, cerita ini sepertinya tidak ampuh lagi membujuk Farras untuk tidak memakan permen. Akhirnya, walaupun makan permen, "dosisnya" aku kurangi pelan-pelan, 2 bungkus sehari menjadi 1 bungkus sehari. Terkadang kalau sebungkus permen sudah ditangan, aku mengalihkan perhatiannya dengan hal lain, kalau sedang makan, maka permen hanya bisa dimakan setelah selesai makan. Selesai makan, Farras lupa dengan permen, tapi aku masih menyimpannya, kalau-kalau Farras terprovokasi dengan temannya yang sedang memakan permen, tapi untungnya Farras mudah dialihkan perhatiannya, sehingga lagi-lagi permen tidak terbuka dari bungkusnya. Sampai saat ini Farras tahan tidak makan permen hingga 2-3 hari. Terkadang kalau keinginan makan permennya tidak tertahankan aku berpura-pura menjadi penjual permen dan Farras membelinya. Farras tinggal menyebutkan permen favoritnya, dan aku yang menjual "permen" akan memberikannya. Farras akan memakan dengan lahap si "permen". Permainan ini bisa mengalihkan perhatiannya dan membuat hatinya kembali gembira.
Dengan buku, pelan-pelan aku ingin menyentuh sisi humanis Farras. Di sebuah harian ada sekumpulan kisah dalam potret yang menggambarkan seorang penyandang disabilitas bernama Aam. Aam, sekalipun tidak memiliki tangan, tapi tidak berhenti sekolah, pandai melukis, tidak minder ketika bersekolah. Aku memotong gambar-gambarnya, kutempelkan kembali dalam buku tulis kosong agar Farras mudah melihatnya. Awalnya Farras kurang tertarik, karena gambarnya tidak semenarik gambar dibuku cerita. Aku memintanya untuk mencari sesuatu yang dia kenal dalam gambar itu, kemudian memintanya menyebutkan warna, dan akhirnya aku akan menceritakan kisah digambar itu. Dengan cara ini Farras tertarik mengeksplorasi gambar dan kembali memintaku menceritakan gambar .
 |
| Aam dibantu sang ibu naik motor ketika berangkat sekolah. | | | | |
|
 |
| tidak memiliki tangan bukan berarti menjadi halangan untuk berkarya |