Aku
senang membaca hal-hal yang membuat semangatku bangkit. Saat mulai memiliki
anak, kehausanku akan ilmu-ilmu parenting tidak tertahankan. Tujuanku adalah
agar kehidupan anakku lebih baik dari aku. Buku-buku itu biasanya aku peroleh
melalui referensi teman atau memang aku tertarik membacanya ketika
melihat-lihat di toko buku. Ada beberapa buku yang telah
"menyelamatkan" atau lebih tepatnya menterjemahkan semua keinginanku.
Inilah salah satu bukunya.....
Suatu
hari mba Noviaty Fauziyah yang aku kenal lewat facebook, memposting sebuah
link e-book yang isinya benar-benar menarik minatku lebih jauh. e-book itu
berisi cerita bergambar. Cerita tentang seorang anak yang mneyirami gambar
pohon, si anak yakin betul pohon itu akan tumbuh, namun orang-orang
disekitarnya seolah-olah mengatakan bahwa tidak mungkin ada sebuah pohon tumbuh
dari sebuah gambar. Si anak tidak menyerah dan terus menyirami gambar itu.
Suatu hari di samping gambar itu tumbuhlah sebuah pohon.
siapapun
yang membacanya pasti akan merenung, menganalisis, apa yang akan disampaikan
oleh si penulis ini..inilah yang dimaksudkan Ellen Kristi selaku penulis buku
Cinta yang Berpikir, sebagai living book, buku yang mempunyai daya
hidup, yang mengajak pembacanya untuk merenung, menganalisis, ada ide hebat dan
gagasan inspiratif dibalik ceritanya. Buku-buku seperti inilah yang selayaknya
dikenalkan kepada anak-anak kita. Dan aku kembali berterima kasih pada mba
Novianty Fauziyah karena memasukkan aku ke Grup Charlotte Mason Indonesia. Dari
sinilah aku mengenal bu Ellen Kristi dan Konsep Cinta yang berpikirnya dan
orang-orang lain yang merindukan sebuah pendidikan yang berdasarkan pada
kecintaan.
Pada awal bab di buku ini bu Ellen
Kristi sudah mewanti-wanti pembacanya agar tidak tergesa-gesa melewati setiap
bab. Memang benar, apa yang ada di dalam buku ini, disetiap kalimatnya sangat
berharga. Namun karena aku kurang sabar (aku langsung meloncat ke bagian living
books), buku ini kubaca beberapa kali, aku tandai dengan garis bawah setiap
kalimat yang membuka pikiranku atau memberiku ide. Pada akhir bab "sekilas
filosofis" aku menuliskan dengan pensil kesimpulanku sendiri, agar
benar-benar terpatri dalam pikiranku. Buku Cinta yang Berpikir ini merupakan
rangkuman dari pemikiran Charlotte Mason.
Siapakah
Charlotte Mason? Beliau adalah seorang guru yang hidup di Inggris era Victoria,
seorang guru yang tidak biasa. Beliau meyakini bahwa anak-anak bukanlah seperti
kertas putih yang polos, yang perlu ditulisi. Charlotte memandang anak sebagai
pribadi yang utuh, yang hanya perlu dipantik agar keluar semua potensi yang ada
dalam dirinya. Selama 30 tahun pengalamannya mengajar, Charlotte telah
membukukan 6 volume ilmu yang sangat berharga. Dalam buku Cinta Berpikir inilah
secara sederhana dipaparkan buah pemikiran Charlotte Mason.
Apa
yang diungkapkan dibuku ini semakin meyakinkan langkahku untuk memberikan
pendidikan terbaik bagi anak-anakku. Aku telah melihat dan merasakan, anak-anak
di negeri ini telah “dianiaya” dengan system pendidikan yang melecehkan potensi
mereka, menipiskan rasa kemanusiaan, dan mendangkalkan ajaran agama. Aku tidak
bisa “meninggalkan” Farras bekerja tanpa aku sendiri terlibat mengasuh dan
mendidiknya. Membaca buku ini membuat aku membulatkan tekad agar menjadi “mama
yang lebih berguna”.
Inilah
sedikit kesimpulanku di bagian bab “sekilas filosofis”. Kesimpulan ini mungkin
bisa diperdalam lagi atau berubah ketika aku membaca lagi buku ini, atau
memperdalam pemikiran Charlotte Mason
1. Aku sadar bahwa mencintai anak saja tidaklah cukup.
Mencintai saja tanpa aku betul-betul terlibat mendidik dan mengasuhnya,serta
memperkaya diriku dengan ilmu yang tepat akan membinasakan anakku.
2. Memang benar, anak akan mengajari banyak hal, aku tidak
perlu terlalu cemas atau takut mengasuh dan mendidik anakku sendiri asal aku
tidak mengeraskan hatiku.
3. Anak adalah pribadi yang sudah utuh, sempurna. BUKAN
SELEMBAR KERTAS KOSONG, akulah yang harus memantik semua potensinya. Potensi
dalam diri anak tidak terbatas. Setiap anak mempunyai selera, hasrat, dan opini
tersendiri. Namun disamping aku harus mengamati dan menggali potensi anakku,
aku harus berperan dalam memilihkan jalan hidup yang mulia untuk anakku. Oleh
karena itu sudah selayaknya aku melatih kebiasaan baik, dan memberikan sesuatu
yang inspiratif baginya.
4. Aku tidak boleh menyalahgunakan otoritasku sebagai orang
tua, otoritasku hanya berlaku jika aku menyuarakan kebenaran dari Otoritas
Tertinggi. Aku ingin mengajarkan anakku ketaatan yang didasari sukarela dan
ikhlas.
5. Aku harus benar-benar serius mengarahkan pendidikan yang
baik untuk anakku. Pendidikan ini haruslah dapat MENGAKTUALISASIKAN SEMUA
POTENSINYA TANPA DIA SENDIRI KEHILANGAN SISI HUMANISNYA. Pendidikan ini juga
harus dapat membuat KARAKTERNYA LEBIH MULIA.
6. Anak memiliki kodrat alami sebagai manusia pembelajar.
Pikirannya selalu tumbuh, untuk tumbuh butuh “makanan” yang bergizi. Dan
makanan yang mampu memuaskan pikiran adalah ide-ide. Ide ini akan dicerna
dengan segenap potensi yang anak miliki. Selayaknya pendidikan yang diberikan
pada anakku nanti mampu menghasilkan ide-ide yang akan membnagkitkan potensi
yang ada dalam diri anakku.
7. Aku menyadari bahwa apa yang aku lakukan bisa menjadi
“udara” / atmosfer disekitar anakku yang secara tidak sadar akan “dihirup”,
diserap oleh anakku. Sudah seharusnya aku memberikan atmosfer positif dan
inspiratif bagi anak-anakku
8. Selain mencontohkan kebiasaan baik, aku perlu melatih anakku
melakukan kebiasaan baik itu secara berulang-ulang agar ketika dewasa dia tidak
perlu melakukannya dengan susah payah.
Aku sendiri sudah membuktikan bahwa kebiasaan baik perlu
dipupuk terus sehingga menjadi semacam gerak reflex, yang tanpanya, aku akan
merasa canggung. Ayahku bukanlah seorang yang relijius, namun sedari kecil
ayahkku senang membelikan aku dan kakak-kakakku buku-buku untuk dibaca, beliau
sendiri suka membaca. Kebanyakan yang beliau berikan adalah buku-buku cerita
teladan dan kenabian. Orang tua kami berpisah hingga kami dewasa, dan kami
selalu mencari “perlindungan” dari masalah-masalah melalui kebenaran, dan
saat masa remaja yang rentan, aku mulai menutup rapat diriku, dengan izin
Alloh, hatiku dilembutkan dan dituntun pada kebenaran, aku mulai memakai hijab.
Aku mulai mencintai kebenaran dan terus mencarinya hingga kini, merasakan
nikmatnya dekat dengan Tuhan, menghamba pada Yang Maha Kuasa, membenci
kebathilan, dan ingin selalu menginspirasi.
9. Setiap hari selayaknya aku memberikan ide baru yang berharga
dengan cara yang bervariasi sesuai dengan umur anakku. Ide-ide berharga,
gagasan inspiratif itu bisa aku dapatkan dari buku-buku berkualitas, yang
mempunyai daya hidup (living books) atau melalui karya seni berkualitas
tinggi. Dan aku perlu memastikan bahwa anakku mendapat pasokan ide berharga,
mulia, dan menginspirasi.
10. Mendampingi anak belajar bukan dalam arti “mencampuri”
metodenya dalam berpikir, tetapi mengarahkannya pada jalan yang benar tanpa
mendominasi. Mempercayakan cara belajar pada anak bukan lantas membiarkannya
tanpa bimbingan. Anak-anak tetap perlu diberitahu “mana yang benar” menurut
aturan, hukum, agama, dan norma.
11. Anak perlu ‘mengevaluasi” apa yang telah didapatnya atau
dipelajarinya melalui narasi (lisan/tulisan. Narasi ini ternyata berguna agar
aku tahu betapa hebatnya cara anakku berpikir, merenungkan, menganalisa dari
apa yang dia dapat dari sebuah ilmu, buku atau sesuatu yang dialaminya.
Lagi-lagi aku telah membuktikan kehebatan kemampuan narasi
ini. Aku mempunyai beberapa sepupu yang masih kecil. Dulu, kalau sedang libur
kuliah, aku menemani mereka tidur. Dan sebelum tidur salah satu dari mereka
minta diceritakan dongeng. Terus terang aku tidak jago mendongeng, dongeng ku
cenderung klasik, cerita tentang kancil mencuri timun menjadi andalanku, Jelas
dia protes, karena ceritaku membosankan, tidak menyenangkan untuk didengar,
akupun menyampaikannya dengan penuh keraguan karena aku tidak ingat betul
berbagai cerita dongeng. Akhirnya dia sendiri yang malah “mendongengiku”
memberitauku, perjalanan kancil setelah mencuri timun, terus ketemu buaya dan
seterusnya. Dia menyampaikan cerita begitu runut dan masuk akal dengan
ekspresi-ekspresi yang lucu. Aku kagum pada daya ingatnya yang begitu luar
biasa sampai ke hal-hal yang detail. Sejak itu kekagumanku terhadap anak-anak
bertambah. Sepupuku ini memang terkenal ceplas-ceplos, kritis, cerdas, percaya
dirinya tinggi, dan disukai oleh siapapun.
12. Pada akhir bab ini setidaknya aku memperoleh gambaran utuh
tentang tujuan pendidikan anakku. Bahwa pendidikan anakku haruslah yang dapat
mengajak dirinya agar lebih dekat pada Alloh dengan segala potensi yang dia
miliki. Aku tidak perlu lagi khawatir pada masa dewasanya, jika aku mengenalkan
sedini mungkin tentang keberadaan Tuhan melalui keajaiban segala ciptaanNya, melatihnya
dengan kebiasaan-kebiasaan baik, memberikannya ide-ide inspiratif,
gagasan-gagasan yang menggugah segala potensi yang tersimpan dalam dirinya.
Kehendak, nalar, dan nuraninya harus dilatih bekerja secara
sinkron sedini mungkin agar tujuan pendidikan yang aku inginkan tercapai…